Sejarah Perfilman Indonesia

Sama halnya dengan perkembangan film di dunia, perfilman Indonesia juga mengalami pasang surut dari masa ke masa. Perfilman Indonesia sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang, dimulai dari masa kolonial belanda.

Saat itu film-film yang masuk ke tanah air hanya bisa ditonton oleh orang-orang Eropa dan Amerika. Dan hanya ada film dokumenter seputar warga  lokal Indonesia beserta keindahan alam tanah air. Ada juga film-film berdurasi panjang yang diimpor dari Prancis dan Amerika Serikat.

Contoh film dokumenter yang ditayangkan pada tahun 1919 adalah Onze Oost atau Timur Milik Kita. Di tahun 1980-an, industri perfilman tanah air sempat menjadi raja di negara sendiri, film Indonesia merajai bioskop-bioskop lokal.

Salah satu film yang terkenal kala itu adalah Catatan si Boy. Dan bintang-bintang muda pada zaman itu antara lain, Onky Alexander, Meriam Bellina, Lydia Kandou, Nike Ardilla, Paramitha Rusady, Desy Ratnasari.

Sejarah

Berikut perjalanan perfilman Indonesia berdasarkan periodenya.

Periode 1900 – 1942

5 Desember 1900 adalah hari dimana bioskop di Indonesia pertama kali didirikan yang berlokasi di Tanah Abang, Batavia (saat ini sudah berganti nama menjadi Jakarta) dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai film bisu.

Pada tahun 1926, film pertama dibuat dan diberi judul Loetoeng Kasaroeng yang di sutradarai oleh Belanda G. Kruge dan L. Heuveldrop. Dan di tahun 1928, datanglah Wong bersaudara yang hijrah dari industri film Shanghai.

Pembuatan film bicara dimulai sejak tahun  1931. Percobaan pertama dilakukan oleh The Teng Chun dalam film perdananya Boenga Roos dari Tcikembang, namun hasilnya cukup buruk. Dan film lainnya yang dibuat Halimoen yang berjudul Indonesia Malaise.

Di awal tahun 1934, seorang wartawan Belanda bernama Albert Balink yang tidak pernah terjun ke dunia perfilman dan hanya tahu film hanya lewat bacaan saja. Dia mengajak Wong Bersaudara berkolaborasi membuat film Pareh dengan mendatangkan Manus Franken, seorang tokoh film documenter asal Belanda, untuk membantu pembuat film itu.

Periode 1942 – 1949

Dizaman ini, industry perfilman tanah air dijadikan sebagai alat propaganda politik Jepang. Nippon Eigha Sha, yang merupakan perusahaan film Jepang yang beroperasi di Indonesia, menghasilkan 3 film, yakni Pulo Inten, Bunga Semboja dan 1001 Malam.

Periode 1950 – 1962

Hari Film Nasional yang diperingati pada 30 Maret 1950 dan ditandai dengan hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Alasanya adalah karena film tersebut film lokal pertama yang bercirikan Indonesia, serta film yang benar-benar disutradarai orang Indonesia, diproduksi perusahaan milik Indonesia yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional).

Di tahun 1951, berdirilah bioskop termegah dan terbesar kala itu yang diberi nama Metropole. Dan perkembangan bioskop pada masa itu berkembang dengan pesat dan mayoritas dimiliki kalangan non pribumi.

Periode 1962 1965

Pada periode ini terdapat beberapa peristiwa penting, diman segala sesuatunya menyangkut aspek politisi, seperti aksi pengganyangan film-film yang disinyalir sebagai film yang menjadi agen imperialisme Amerika Serikat, pemboikotan, pencopotan reklame, hingga pembakaran gedung bioskop. Dari 700 bioskop yang ada pada tahun 1964, di tahun berikutnya hanya tersisa 350 bioskop.

Periode 1965 – 1970

Peristiwa G30S PKI sangat berpengaruh dimasa itu. Banyak pengusaha bioskop yang dilemma karena mekanisme peredaran film rusak akibat adanya gerakan anti imperialisme. Sementara produksi film di tanah air masih sangat sedikit sehingga pasokan untuk bioskop tidak mencukupi.

Inflasi yang sangat tinggi justru melumpuhkan industry perfilman. Ditambah lagi adanya kebijakan pemerintah mengadakan sanering di tahun 1966. Namun di akhir periode ini, dunia perfilman Indonesia sedikit terbantu karena adanya film impor yang memulihkan bisnis perbioskopan dan meningkatkan animo masyarakat untuk menonton.

Periode 1970 – 1991

Untuk periode ini, teknologi pembuatan film sudah mengalami kemajuan, walau harus bersaing dengan televisi nasional, TVRI. Di tahun 1978, Sudwikatmono, pengusaha Indonesia mendirikan Sinepleks Jakarta Theater yang disusul dibangunnya Studio 21 pada tahun 1987.

Periode 1991 – 1998

Pada masa ini, perfilman Tanah Air mengalami mati suri dan hanya mampu memproduksi 2-3 film dalam setahun yang didominasi oleh film-film bertemakan seks. Hal itu terjadi karena pesatnya perkemangan pertelevisian swasta, dan juga menculnya teknologi VCD, LD, dan DVD yang dianggap sebagai pesaing baru.

Di era ini jugalah dibuat UU No 8 Tahun 1992 tentang perfilman yang mengatur peniadaan kewajiban izin produksi yang turut menyumbang surutnya produksi film. Disusul munculnya buku yang bertemakan perfilman Indonesia yaitu Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia.

Dunia persinetronan pun ikut menjamur di kala itu, mengisi jam-jam hiburan masyarakat. kehadirannya di stasiun televisi nasional justru memperburuk suasana industry film dalam negeri. Sinetron saat itu di produksi oleh Multivision Plus yang didirikan oleh Raam Punjabi.

Periode 1998 – 2009

Akhir tahun 1998 dunia perfilman masih terpuruk. Dan diawal tahun 1999 kembali bangkit dengan merilis film pertama di era ini yang berjudul Cinta dalam Sepoting Roti karya Garin Nugroho. Disusul munculnya Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina dan Rudi Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta (AADC) yang sukses di pasaran.

Dan di masa ini juga produksi perfilman Indonesia semakin meningkat yang didominasi oleh tema-tema film horror dan film remaja. 

Periode 2010 – 2019

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, perfilman Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Upaya pemerintah dalam mempromosikan film lokal dengan membentuk UU No 39 tentang Perfilman pada tahun 2009 yang memiliki imbas positif untuk perkembangan indutri perfilman.

Perkembangannya semakin marak berkat hadirnya festival-festival  Internasional  dan mulai menggandeng negara lain sebagai pendukung dalam distribusi dan produksi.

Periode 2020 – sekarang

Dunia perfilman kembali lumpuh dikarenakan Pandemi Covid-19 di awal tahun 2020. Tidak hanya di Indonesia, seluruh dunia ikut mengalami dampaknya. Sehingga sekitar 68 bioskop nasional ditutup sementara sampai pandemi berakhir.

Meski demikian, tidak melumpuhkan kreativitas anak bangsa untuk tetap berkarya dalam menulis dan pembuatan film, serta pengusaha rumah produksi tetap dapat melanjutkan kegiatan professional mereka lewat platform daring.

Saat ini, bioskop-bioskop di tanah air kembali dibuka karena pandemi sudah menurun. Namun, setiap pengunjung yang ingin menikmati film di bioskop harus memenuhi beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah, seperti harus sudah divaksin, menggunakan masker dan tetap jaga jarak.

Daftar Film Indonesia Terbaik

Nah, itulah sekilas informasi seputar sejarah perfilman Indonesia. Semoga dapat menambah wawasan kamu tentang dunia perfilman tanah air.